Jumat, 30 November 2012

SEHAT ITU MURAH

SEHAT ITU MURAH

Siapa bilang sehat itu mahal, sehat itu murah ini resepnya

1. Jangan makan makananatau minuman yang macem=macem

2. Otak jangan ngeres.

3. Jangan Iren, Drengken

4. Budi dan oekerti diplihara

5. Tubuh yang 70 % setiap hari disiram atom berjiwa.

6. Tak beragama ataak apa, asal bersujud kepada Nya.

7. Hidup Cinta kasih Pada sesama

8. Berdarma sesuai kemampuan, walau hanya satu kata.

9. Yakin duina Anyakra manggilingan, bagai roda berputar

10. Berusaha berkata yang menyenangkan orang lain

11. he he he kembangkan sediri aje

Somoga bermanfaat

Bersama kita melaksakan : GALILAH RASA YANG MENYELIMUTI SELURUH TUBUHMU/Rasa kepribadianmu yaanag Asli

LANGIT KETUJUH GAYA LUAR NEGERI BUKAN CARA KSD

Langit Ke :

1. Begitu dia bisa merasakan neng hatinya berkata : bener kata teman temaku KSD yang dulu kubilang Kafir.

2. Tahap berikutnya Bener kata Bapak ku Gak gampang begitu, mendekatkan diri itu Pada Hyang Widi

3. Tahap Berikutnya, hatinya berkata Walau sekedar ngomong yg kudengar pada qultum, ternyata benar, harus belajar mati didalam hidup. awalnya

4. Tahap selanjutnya, hatinya berkata, dulu ada temanku yg urakan tetapi omongannya benar, kalau mau tau banyak dia bilang tenangkan ombak dan buih di kepala, kalau mau melihat rahasia diri, karena itu Kitab sejati

5. Tahap berikutnya, hatinya berkata, Guruku juga dulu bilang, sayanagnya hanya ngomong doang, gak ada detail dan caranya, sekarang aku harus membuktikannya

6. Tahap berikutnya, hatinya berkata, benar kata sesepuh, Tuntunan, teman teman KSD saat Pengisian, semua tak bisa sekedar baca buku ini dan itu, aku harus menjadi diriku sendiri, yang kupetik juga budi pekerti yang kumiliki, tetapi aku tak mau hanya dapat cerita sebelum aku menyaksikannya sendiri, aku harus berusaha sendiri dan mandiri, berani atas kekuatan dan kemampuaku diri sendiri.

7. Tahap akhir, Hatinya berkata, benar, benar dan benar, jangankan mamak, bapak, kakek,Nenek, Ustadz atau kyai, Nabi maupun Malaikat sekalipun, semua tak ada yang ikut, Hyang Maha Suci menghadap tak berteman Lagi saat menghadap Hyang Widi

Ternyata menuju Shyirotol Mustakim harus melalui Candi Sapta Rengga (yg 7) dan hanya panjang sejengkal di belakang kepala, dimana memiliki gerbang khusus pudak sinumpet untuk Menggapai Sinar Hyang Widi, yang bersemayam di negeri entah beranatah (Layuk Hayafu).

WAHAI SAUDARAKU APAPUN AGAMAMU APAPUN ADDINMU, LUANGKAN SEDIKIT WAKTUMU UNTUK BERSUJUD, Mohon Ampun dan bertaubat PADA NYA

Bersama kita melaksakan : GALILAH RASA YANG MENYELIMUTI SELURUH TUBUHMU/Rasa kepribadianmu yaanag Asli

Salam Waras

Selasa, 27 November 2012

RENUNGAN

Kenapa yah? ajaran atau tepatnya "praktik agama" itu cenderung "egois" ? saya lihat jarang sekali ada praktik agama yang dengan tulus ikhlas sama-sama bekerja untuk kemanusiaan atau untuk sama-sama membangun tempat ibadah.

Mereka cenderung defensif, bersaing dan menjaga jarak dengan agama lainnya. Bahkan praktik keagamaan tega membunuh sesama saudara yang dianggap telah sesat karena prilaku keagamaan mereka yang tidak sama. Contohnya, praktik keagamaan telah menghancurkan praktik keagamaan lainnya (kelompok ahmadiyah, maupun syiah di Madura) karena mereka dianggap telah menyimpang dan merusak akidah.

Di sisi lain agama selalu mengajarkan untuk bersikap "altruis" (lawan dari egois), tetapi praktiknya agama itu cenderung egois. Tidak peduli dengan orang lain, apakah orang lain terganggu dengan suara pengeras suara itu atau tidak.

Dimana sesungguhnya sisi baik dari praktik keagamaan? Jika antar mereka saling menutup diri? Padahal semua yang beragama mestinya juga bertuhan, tetapi anehnya mereka merasa tuhan yang benar itu hanya milik kelompok dia. Sehingga sering tuhan dijadikan "alat" untuk merusak atau membunuh kelompok lainnya. Saya kira, ini bukan sekadar teori melainkan ada di dalam praktik keagamaan.

Pertanyaan, bagaimana seharusnya praktik keagamaan itu harus dibenahi untuk mewujudkna kehidupan sesama yang lebih harmonis, aman, nyaman, damai berkeadilan dan berkesejahteraan?

Silakan dibagi pemikiran anda.....

PERUWATAN DI MAKAM SUNAN KALI JOGO






PERUWATAN DI MAKAM SUNAN KALIJAGA, KADILANGU, DEMAK.

Sunan Kalijaga adalah salah satu wali dari Wali Songo. Putra Bupati Tuban, Ki Tumenggung Wilatikta. Tidak ada petunjuk kapan dilahirkan dan kapan pula meninggalnya. Selain kisah bahwa Sunan Kalijaga mengalami 3 zaman, yaitu masa kerajaan Majapahit, kerajaan Demak dan Pajang. Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang penyebaran agama Islam di jawa menggunakan cara alkulturasi/sinkrentisme yang kejawaannya masih sangat kental terbukti dalam makamnya di Kadilangu tak pernah sepi peziarah. Utamanya pada hari Ahad, Kamis dan Jumat. Puncaknya pada Kamis malam Jumat Kliwon. Khusunya pada tanggal 10 Dzul-hijjah orang berduyun menyaksikan upacara penjamasan benda-benda pusaka.

Diceritakan di buku cerita dongeng jawa nama Kalijaga berasal dari topo jogo kali dalam Bahasa Indonesia artinya bersemedi menjaga sungai, dimana meditasinya dikisahkan sampai burungpun membuat sarang diatas kepalanya.
Di ceritakan juga dalam buku Darmo Gandul, Sunan Kalijaga dengan niatnya yang kencang membujuk Brawijaya Raja Majapahit (ayah dari Raden Patah dengan Putri Cempa) untuk menjadi Islam dan akhirnya niatnya itu tercapai juga, tetapi dalam kisahnya kalau Raja Jawa menjadi Islam maka seluruh jawa akan jadi Islam. Terbukti bahwa sekarang penduduk di Jawa mayoritas beragama Islam walaupun banyak yang hanya statusnya saja. Dari perjalanan panjangnya untuk menyukseskan misinya menyebarkan agama Islam akhirnya Sunan Kalijaga juga harus bertanggung jawab atas hilangnya catatan-catatan sejarah, ajaran spiritual Jawa dan catatan/buku yang lain karena perpustakaan majapahit pada saat itu terbakar habis dan patung-patung ataupun candi-candi peninggalan leluhur rusak dalam kudetanya Raden Patah.

Kegundahaan hati untuk mengembalikan ajaran-ajaran jawa yang hilang, Sunan Kalijaga dengan jalan bertapa (sesuai ajaran jawa). Kemudian setelah cukup lama bertapa ternyata tahu bagaimana mengembalikan ajaran-ajaran spiritual jawa yang hilang dengan cara mengemas semua ajaran spiritual jawa kedalam bentuk seni wayang.

Karena mendapatkan gegambaran-petunjuk waktu sujud, pada tanggal 11 November 2012, pukul 23.30-02.00 pagi, warga KSD Wonogiri(Sunar bersama Istrinya, Egy, Keswo) dan warga KSD Sragen (Sukoco, Jarwanto, Sumardi, Suyatno) melakukan peruwatan ke Kadilangu, Demak tempatnya di Makan Sunan Kalijaga yang dulunya Bopo PA Sri Gutomo juga pernah melakukan peruwatan di Makam Kalijaga. Tempat-tempat peruwatan Bopo PA Sri Gutomo mengapa sekarang masih perlu dilakukan peruwatan lagi karena biarpun suatu tempat sudah bersih tetapi apabila lama ditidak dibersihkan maka akan kotor juga, ;Karena Dalam titik-titik sentral atau pos-pos tempat peruwatan, atmosfer di lingkungan sekitarnya dapat memberikan sesuatu kepada kita yang melakukan peruwatan tentang pelajaran-pelajaran berharga untuk manghayu-hayu bagya bawana, terbukti warga yang sudah sering melakukan peruwatan (profesional) biasanya mendapatkan daya-energi, pelajaran-pelajaran berharga, pengalaman-pengalaman, cerita-cerita sejarah yang mungkin tidak didapat dalam sujud seperti biasanya.

Tempat sujud peruwatannya di samping kanan makan Sunan Kalijaga tepatnya di bawah pohon besar yang gelap, kami memilih tempat tersebut karena sepi dan tidak campur dengan orang-orang yang berziarah. Dalam keheningan tidak terasa sujud kami cukup lama sekitar dua jam dan tata cara kami melakukan sujud peruwatan seperti pada tatacara yang diajarkan Bopo PA Sri Gutomo dalam Buku Penerimaan Wahyu Wewarah Sapta Darma.

Pengalaman menarik di waktu baru melakukan patrap sujud, salah satu seseorang dari kami di temui banyak sekali roh yang dalam pandangannya berwujud seorang tua memakai blangkon yang diikuti oleh banyak sekali roh-roh, roh-roh tersebut mengikuti orang tua itu karena ingin terselamatkan dari kesalahan di masa hidupnya. Orang tua pakai blangkon tadi menemui salah seorang dari kami dan mengajak, mengajukan banyak negosisasi kepada kami tentang nasip cucu-cucunya yang mengikuti jejaknya supaya hidup harmonis dengan manusia Jawa. Negosiasi yang diajukan tidak kami tanggapi/menerima karena belum tentu hak wasesa/wewenang pribadi digunakan sesuai dengan Maha Wasesanya Allah. Setelah sujud wajib mengucap Asma Lima mendapatkan gegambaran ternyata memang tidak perlu ada negosiasi, kemudian terdengar suara: “JAWA-JAWI BALI MENYANG JAWANE SEBAB JAWA IKU MANGERTI MATA SAWIJI”. Kemudian di akhir-akhir sujud peruwatan ada getaran yang kurang sempurna tiba-tiba datang, dengan cara hanya menunggu proses selesainya saja ternyata kami berhasil dan sukses biarpun masih ada yang belum tuntas, kami mendapatkan beberapa cara-cara untuk mewujudkan suara yang kami dengar tadi. Sekian, terima kasih.

untuk foto dokumentasinya dapat dilihat link di bawah ini:


Salam Waras
By Remaja KSD

PERUWATAN DI MAKAM SUNAN KALIJAGA, KADILANGU, DEMAK.

Sunan Kalijaga adalah salah satu wali dari Wali Songo. Putra Bupati Tuban, Ki Tumenggung Wilatikta. Tidak ada petunjuk kapan dilahirkan dan kapan pula meninggalnya. Selain kisah bahwa Sunan Kalijaga mengalami 3 zaman, yaitu masa kerajaan Majapahit, kerajaan Demak dan Pajang. Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang penyebaran agama Islam di jawa menggunakan cara alkulturasi/sinkrentisme yang kejawaannya masih sangat kental terbukti dalam makamnya di Kadilangu tak pernah sepi peziarah. Utamanya pada hari Ahad, Kamis dan Jumat. Puncaknya pada Kamis malam Jumat Kliwon. Khusunya pada tanggal 10 Dzul-hijjah orang berduyun menyaksikan upacara penjamasan benda-benda pusaka. 

Diceritakan di buku cerita dongeng jawa nama Kalijaga berasal dari topo jogo kali dalam Bahasa Indonesia artinya bersemedi menjaga sungai, dimana meditasinya dikisahkan sampai burungpun membuat sarang diatas kepalanya. 
Di ceritakan juga dalam buku Darmo Gandul, Sunan Kalijaga dengan niatnya yang kencang membujuk Brawijaya Raja Majapahit (ayah dari Raden Patah dengan Putri Cempa) untuk menjadi Islam dan akhirnya niatnya itu tercapai juga, tetapi dalam kisahnya kalau Raja Jawa menjadi Islam maka seluruh jawa akan jadi Islam. Terbukti bahwa sekarang penduduk di Jawa mayoritas beragama Islam walaupun banyak yang hanya statusnya saja. Dari perjalanan panjangnya untuk menyukseskan misinya menyebarkan agama Islam akhirnya Sunan Kalijaga juga harus bertanggung jawab atas hilangnya catatan-catatan sejarah, ajaran spiritual Jawa dan catatan/buku yang lain karena perpustakaan majapahit pada saat itu terbakar habis dan patung-patung ataupun candi-candi peninggalan leluhur rusak dalam kudetanya Raden Patah.

Kegundahaan hati untuk mengembalikan ajaran-ajaran jawa yang hilang, Sunan Kalijaga dengan jalan bertapa (sesuai ajaran jawa). Kemudian setelah cukup lama bertapa ternyata tahu bagaimana mengembalikan ajaran-ajaran spiritual jawa yang hilang dengan cara mengemas semua ajaran spiritual jawa kedalam bentuk seni wayang. 

Karena mendapatkan gegambaran-petunjuk waktu sujud, pada tanggal 11 November 2012, pukul 23.30-02.00 pagi, warga KSD Wonogiri(Sunar bersama Istrinya, Egy, Keswo) dan warga KSD Sragen (Sukoco, Jarwanto, Sumardi, Suyatno) melakukan peruwatan ke Kadilangu, Demak tempatnya di Makan Sunan Kalijaga yang dulunya Bopo PA Sri Gutomo juga pernah melakukan peruwatan di Makam Kalijaga. Tempat-tempat peruwatan Bopo PA Sri Gutomo mengapa sekarang masih perlu dilakukan peruwatan lagi karena biarpun suatu tempat sudah bersih tetapi apabila lama ditidak dibersihkan maka akan kotor juga, ;Karena Dalam titik-titik sentral atau pos-pos tempat peruwatan, atmosfer di lingkungan sekitarnya dapat memberikan sesuatu kepada kita yang melakukan peruwatan tentang pelajaran-pelajaran berharga untuk manghayu-hayu bagya bawana, terbukti warga yang sudah sering melakukan peruwatan (profesional) biasanya mendapatkan daya-energi, pelajaran-pelajaran berharga, pengalaman-pengalaman, cerita-cerita sejarah yang mungkin tidak didapat dalam sujud seperti biasanya.

Tempat sujud peruwatannya di samping kanan makan Sunan Kalijaga tepatnya di bawah pohon besar yang gelap, kami memilih tempat tersebut karena sepi dan tidak campur dengan orang-orang yang berziarah. Dalam keheningan tidak terasa sujud kami cukup lama sekitar dua jam dan tata cara kami melakukan sujud peruwatan seperti pada tatacara yang diajarkan Bopo PA Sri Gutomo dalam Buku Penerimaan Wahyu Wewarah Sapta Darma. 

Pengalaman menarik di waktu baru melakukan patrap sujud, salah satu seseorang dari kami di temui banyak sekali roh yang dalam pandangannya berwujud seorang tua memakai blangkon yang diikuti oleh banyak sekali roh-roh, roh-roh tersebut mengikuti orang tua itu karena ingin terselamatkan dari kesalahan di masa hidupnya. Orang tua pakai blangkon tadi menemui salah seorang dari kami dan mengajak, mengajukan banyak negosisasi kepada kami tentang nasip cucu-cucunya yang mengikuti jejaknya supaya hidup harmonis dengan manusia Jawa. Negosiasi yang diajukan tidak kami tanggapi/menerima karena belum tentu hak wasesa/wewenang pribadi digunakan sesuai dengan Maha Wasesanya Allah. Setelah sujud wajib mengucap Asma Lima mendapatkan gegambaran ternyata memang tidak perlu ada negosiasi, kemudian terdengar suara: “JAWA-JAWI BALI MENYANG JAWANE SEBAB JAWA IKU MANGERTI MATA SAWIJI”. Kemudian di akhir-akhir sujud peruwatan ada getaran yang kurang sempurna tiba-tiba datang, dengan cara hanya menunggu proses selesainya saja ternyata kami berhasil dan sukses biarpun masih ada yang belum tuntas, kami mendapatkan beberapa cara-cara untuk mewujudkan suara yang kami dengar tadi. Sekian, terima kasih.

untuk foto dokumentasinya dapat dilihat link di bawah ini:
https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.493144367392870&type=1

Salam Waras
By Remaja KSD

PERUATAN di Makam MBAH SURO, DESA DUKUN KAB; DEMAK


PERUWATAN DI MAKAM MBAH SURO, DESA DUKUN, KAB. DEMAK.

Makam mbah suro (Desa Dukun, Kab. Demak) dulunya adalah makam yang tidak diperhatikan oleh penduduk setempat karena ada penduduk setempat sekitar yang mengalap berkah (istilahnya pemujaan kepada penunggu situ) akhirnya tempat itu dibangun rumah makam dan sekarang setiap hari-hari tertentu dan rutin di adakan ritual-ritual khusus di makam Mbah suro. 

Ada suatu kejadian dan kesaksian spiritual dari beberapa penduduk setempat yaitu disaat ada penduduk masyarakat dekat Makam Mbah Suro ada yang meninggal dunia dan dimakamkan di dekat makam Mbah suro. Dalam kaweningan waktu doa menguburnya banyak penduduk setempat yang menyaksikan “ada pusaran air sangat besar yang menyedot roh-roh leluhur mereka, masuk menuju dasar yang dalam dan menyiksa, roh-roh leluhur mereka teriak-teriak meminta tolong karena tidak bisa keluar dan roh-roh mereka seperti beku terkurung”. Kesaksian-kesaksian tersebut menjadi kejadian yang rutin setiap ada yang meninggal dunia dan dikuburkan di dekat makam Mbah Suro.

Dari keluhan-keluhan dan kegundahan hati warga penduduk setempat, salah satu warga KSD disekitar situ namanya Ibu Sri mengundang kami untuk melakukan peruwatan di Makam Mbah Suro. Bersamaan setelah kami melaksanakan peruwatan di Makan Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, kami mampir dirumahnya Ibu Sri dan kemudian paginya jam 06.30-09.00 tanggal 12 November 2012 kami melaksanakan peruwatan di Makam Mbah Suro. Dalam peruwatan kami ada 9 warga KSD dari Sragen(Sukoco, Jarwanto, Sumardi, Suyatno), Wonogiri(sunar beserta istrinya, Egy, Keswo dan Demak(Ibu Sri dan Pak No). 

Hasil atau pengalaman peruwatannya pada intinya pusaran yang menyedot roh-roh leluhur sebenarnya itu adalah bangunan kerajaan-kerajaan baru yang akan membentuk kerajaan yang besar, merupakan proses untuk menjadi kerajaan besar adalah salah satu prosesnya adalah menyedot roh-roh sekitar situ supaya tempat itu mempunyai daya/energi (sangat halus). Mengapa tempat itu ada pusaran air yang besar, menurut pengalaman sujud peruwatan kami ditempat itu di taman pusaka lanang-wadon (bentuknya masih belum jelas) oleh yang pengalap berkah pertama, jelasnya tempat itu ditaman benda yang mempunyai muatan positif dan negatif dan apabila kedua benda itu didekatkan akan ada titik vakum dan titik vakum tersebut akan menyedot energi/daya disekitar tempat itu, efeknya alam disekitar akan kondisionalnya dalam segala bidang tidak stabil seperti banyak yang sakit, meninggal, cekcok, pertengkaran dan lain-lain intinya kondisinya tidak sehat/waras. 

Seperti biasa setelah ngucap Asma Lima bukan lagi hak wasesa yang bekerja melainkan Maha Wasesa, dengan KemahawasesanNya pusaran air tersebut berputar arah berbalik sebelumnya berputar searah jarum jam menjadi berlawanan dengan arah jarum jam, bersamaan dengan itu roh-roh leluhur dapat keluar. Kemudian dengan perangkat-perangkat sujud peruwatan yang ada, roh-roh leluhur memperoleh piranti-piranti/alat-alat untuk lebih sempurna dan dapat kembali ke alam yang lebih baik. Proses itu dalam sujud peruwatan ditunggu sampai dada dingin ayem tentrem, dan dada dingin ayem tentrem itu indikasi keberhasilan dalam sujud peruwatan. Sekian dan terima kasih.

Untuk foto dokumentasi dapat dilihat di link dibawah ini:

https://www.facebook.com/media/set/?id=1549634099&tid=200395843334392&skipClustering=false&qn=badb7569fe3c65d68b51920bdf246fdc&success=9&failure=0&set=oa.493573027350004

Salam Waras
By Remaja KSD







PERUWATAN DI MAKAM MBAH SURO, DESA DUKUN, KAB. DEMAK.

Makam mbah suro (Desa Dukun, Kab. Demak) dulunya adalah makam yang tidak diperhatikan oleh penduduk setempat karena ada penduduk setempat sekitar yang mengalap berkah (istilahnya pemujaan kepada penunggu situ) akhirnya tempat itu dibangun rumah makam dan sekarang setiap hari-hari tertentu dan rutin di adakan ritual-ritual khusus di makam Mbah suro.

Ada suatu kejadian dan kesaksian spiritual dari beberapa penduduk setempat yaitu disaat ada penduduk masyarakat dekat Makam Mbah Suro ada yang meninggal dunia dan dimakamkan di dekat makam Mbah suro. Dalam kaweningan waktu doa menguburnya banyak penduduk setempat yang menyaksikan “ada pusaran air sangat besar yang menyedot roh-roh leluhur mereka, masuk menuju dasar yang dalam dan menyiksa, roh-roh leluhur mereka teriak-teriak meminta tolong karena tidak bisa keluar dan roh-roh mereka seperti beku terkurung”. Kesaksian-kesaksian tersebut menjadi kejadian yang rutin setiap ada yang meninggal dunia dan dikuburkan di dekat makam Mbah Suro.

Dari keluhan-keluhan dan kegundahan hati warga penduduk setempat, salah satu warga KSD disekitar situ namanya Ibu Sri mengundang kami untuk melakukan peruwatan di Makam Mbah Suro. Bersamaan setelah kami melaksanakan peruwatan di Makan Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, kami mampir dirumahnya Ibu Sri dan kemudian paginya jam 06.30-09.00 tanggal 12 November 2012 kami melaksanakan peruwatan di Makam Mbah Suro. Dalam peruwatan kami ada 9 warga KSD dari Sragen(Sukoco, Jarwanto, Sumardi, Suyatno), Wonogiri(sunar beserta istrinya, Egy, Keswo dan Demak(Ibu Sri dan Pak No).

Hasil atau pengalaman peruwatannya pada intinya pusaran yang menyedot roh-roh leluhur sebenarnya itu adalah bangunan kerajaan-kerajaan baru yang akan membentuk kerajaan yang besar, merupakan proses untuk menjadi kerajaan besar adalah salah satu prosesnya adalah menyedot roh-roh sekitar situ supaya tempat itu mempunyai daya/energi (sangat halus). Mengapa tempat itu ada pusaran air yang besar, menurut pengalaman sujud peruwatan kami ditempat itu di taman pusaka lanang-wadon (bentuknya masih belum jelas) oleh yang pengalap berkah pertama, jelasnya tempat itu ditaman benda yang mempunyai muatan positif dan negatif dan apabila kedua benda itu didekatkan akan ada titik vakum dan titik vakum tersebut akan menyedot energi/daya disekitar tempat itu, efeknya alam disekitar akan kondisionalnya dalam segala bidang tidak stabil seperti banyak yang sakit, meninggal, cekcok, pertengkaran dan lain-lain intinya kondisinya tidak sehat/waras.

Seperti biasa setelah ngucap Asma Lima bukan lagi hak wasesa yang bekerja melainkan Maha Wasesa, dengan KemahawasesanNya pusaran air tersebut berputar arah berbalik sebelumnya berputar searah jarum jam menjadi berlawanan dengan arah jarum jam, bersamaan dengan itu roh-roh leluhur dapat keluar. Kemudian dengan perangkat-perangkat sujud peruwatan yang ada, roh-roh leluhur memperoleh piranti-piranti/alat-alat untuk lebih sempurna dan dapat kembali ke alam yang lebih baik. Proses itu dalam sujud peruwatan ditunggu sampai dada dingin ayem tentrem, dan dada dingin ayem tentrem itu indikasi keberhasilan dalam sujud peruwatan. Sekian dan terima kasih.

Untuk foto dokumentasi dapat dilihat di link dibawah ini:



Salam Waras
By Remaja KSD
— bersama 

Sastra jendra hayuningrat






Ingkang dipun wastani kawruh Sastra Jendra anênggih punika pituduh ingkang sanyata, anggêlarakên dununging kawruh kasampurnan, winiwih saking pamêjangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitêdah kasajatining kawruh kasampurnan. Kawruh Sastrar Jendra Hayuningrat pangruwat barang sakalir, kapungkur sagung ra
rasan ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastra-di, pungkas-pungkasaning kawruh, ditya diyu raksasa myang sato isining wanadri, lamun weruh surasane kang Sastra Jendra saged rinuwat dening bathara, sampurna patinireki, atmane awor lan manungsa, manungsa kang wus linuwih yen manungsa udani awor lan dewa patinipun, jawata kang minulya mangkana duk miyarsa tyasira andhandhang sastra. Ingandhap punika wedharing kang Sastra Jendra Hayuningrat saking Serat Lokapala.
Pupuh 177
Dhandhanggula


1. Mas Cebolang kalawan Nurwitri rêsêping tyas de binojokrama tan mantra-mantra yrn nêbe, supêkêt imbal wuwus, dyan tumênggung maringkên aglis, srat Lokapala kawya, dumuginya kondur, risang Rama mring Ngayodya, lah anakmas kinarya sasamben linggih, jujugên kaca sangga.
2. Caritane sang Prabu Sumali, ing Ngalengka kala puruita, mring Bagawan Wisrawa-ne, sêrat tinampan sampun, wus binuka turira aris, nuhun kauningana, estu jugul punggung, têmbung tuwin sêkarira , sajêg ulun sawêg sapisan puniki, sumêrêp sêrat kawya.
3. Sagêd maos nanging dlêmik-dlêmik, dyang tumênggung alon angandika, lah rêka wacanên wae, ywa nganggo têmbang lagu, wus winaca kalankung rindhik, angel kêdaling lesan, dyang tumênggung nuntun, miwah anjarwani pisan, ragi lanyah nggigit suraosing tulis, têmah kataman rimang.
4. Wêdharing kang Sastra Harjendra di, wus tinangkêp sêrat kang winaca, makidhupuh trapsilane, ing nayana mawêlu, dyan tumênggung mesêm ing galih, ing tyas tan kasamaran, kalejêming sêmu, minawas wawas jroning tyas, anaratas pantês lamun dentêtêsi, luwês lon angandika.
5. Babo jêbeng ngagêsang puniki, mrih waspada pandoming kadadyan, kang pasthi ring pangesthine, panjutaning tyas tuhu, tarlen kawruh jiwa sajati, mangsa suryaning alam, wikan kang manglimput, myang pandak panduking driya, kasantaning udaya kang anartani, ing surasa kêrtarta.
6. Kang kapusthi pangesthining kapti, tan lyan mamang katamaning tingkah, ing tumitah mammrih lanteh, tinêtah siang dalu, tinalisik osiking ati, tiniti mrih tetika, kasidaning dunung, dumunung reh sangkan-paran, aywa samar pamoring kawula Gusti, mangkana duk miyarsa.
7. Mas Cêbolang matur mangênjali, dhuh pukulun sêmbahan kawula, mugi mêlasa ta mangke, maring pun mudha punggung, kang tuhu tan satmateng gati, ring silastutining tyas, trapsilaning tuwuh, tumuwuh tanpa pituwas, têmah tiwas ing pangesthi tanpa dadi, saking kirang wêjangan.
8. Ingkang wijang jerenganereki, pakartine ing reh jagad raya, tan mantra uning jatine, marmantakêdah matur, minta tanya kawruh kang jati, jatine kang winastan, kawruh kang linuhung, Sastra Jendra Hayuning-rat, ing nguni kang piningit Jawata luwih, myang kang ran Sastra Cetha.
9. Mênggah têgêsipun kadospundi, miwah dununging pikajêngira, kang wijang wiji-wijine, dyang mênggung maluya rum, dhuh anakmas kalangkung rungsit, mungguhing patanyanta, Sastra Jendra iku liring sifat kayuwanan, -nira Sang Hyang Endra kang mêngku ling-aling, badaling Hyang Wisesa.
10. Yen wus wikan ing kajateneki, sayêkti yen têtêp hayuningrat, lire raharjeng jagade, dene ta inggahipung, Sastra Cêtha dipun wastani, liring kang Sastra Cêtha, kalêpasanipun kawaskithaning panunggal, nora samar sangkan paraning dumadi, dumadya mardikeng-rat.
11. Lire pamijining jagad yêkti, marma tan kenging kengis ing kathah, sinêngkêr ing Batara-ne, kajaba para Dewa ku, kang linilan ing Jawata di, Sang Hyang Sukma Kawêkas, myang jalma linuhung, kang katimeng pamêsunya, puja brata sinung wahyu dyatmikani, nanging mawa prabawa.
12. Guntur wisesa myang guntur agni, guntur bumi miwah guntur braja, guntur ranu myang gunture, awang-awang punika lamun datan tumama yêkti, pratandha katrima, dene cihnanipun, ingkang datan katrima, yêkti sirna tanpa sesa ing dumadi, marma ta wis kaduga.
13. Mêdhar ngilmi gaibing Hyang Widdhi, saking makatên ing purwanira, jrih sikuning Hyang Murbeng reh, nanging ta puntonipun, reh ta sami ngudi wawadi, mrih sidhine kasidan, titising pangawruh, kasampurnaning ngagêsang, kadipundi mungkêring reh tekat yêkti, mrih babaring kamulyan.
14. Yêkti wontên upamane anti, ing pangrêman sarta kang tan lana, kumalêkêrên dadine, tan nêtês dadinipun, tanpa kardi dennya dumadi, tiwas tanpa pituwas, kangelan saumur, luhung aywa dumadia, manungsa yen tan sampurna gêsangneki, lir sato tanpa tekad.
15. Babukaning carita ing nguni, karsaning Sang Hyang Girinata, angumpulakên ing kawruhe, wit saking mêntas kawus, kawruh jati kalindhih dening, Rêsi Kanekaputra, mila tinartamtu, ngumpulkên para kadang Dewa, Rêsi Nrada kalih Bathara Basuki, tiga Sang Hyang Sriyana.
16. Iya iku kang sinêbut nami, Sang Hyang Panyarikan paparabnya, kalawan putra kaliye, Bathara Endra dwi Wisnu, samya têdhak pucuking wukir, ing ardi Jamusdipa, dennya mêdhar kawruh, sawusing pêpak sadaya, Sang Hyang Guru ambukani kawruh jati, ing ngarêp wus binabar.
17. Purwaningkang dumadi rumiyin, ingkang wrêda pribadi pan cahya aulya dahana rumiyin, ingkang wrêda pribadi panca jaladri, puniku pinabênan, ing Kanekasunu, ing pangancas taksih lêpat, de mangeran marang kahananireki, sisip-têmbire* (sisip-sêmbire) dadya.
18. Sumurupe têteja sayêkti, sarta maring kêkuwung maring wangkawa, amarga ing sadurunge, isining rat kadulu, maksih awang-uwung awingit, wus ana swara kadya, gêntha keleng ngungkung, iku Sang Hyang Girinata, sru anggilut jablasing surasaneki, Bathara Nrada sigra.
19. Mêjangakên ing atur dumêling, manis tutuk tatasing kang sabda, Hong Hyang Hyang ulun yêktine, mênggah ta sagungipun, kawontênankesthi kajatin, kajatosan punika, wonten kahaneku, saksine wontên wonten manungsa, jagad ingkang manungsa estu tan pangling, lawan jagading donya.
20. Mila binasakkên saderenging, wontên cahya wus ana swara, apindha gêntha kakêleng, pinika wardinipun, liring swara ingkang kapyarsi, yeku bawa jatinya, gêntha jatinipun, kantha-kanthining kang warna, kêkêleng pan dudunungan jatineki, anjinging kang bicara.
21. Dununging bawa neng kantha singgih, kantha punika sayêkti samar, samar elek satuhune, elok gaib liripun, dene gaib punika mawi, sasandha kadadosan, babasaning catur, nora warna datan rupa, amimbuhi sipat wawarnen sakalir, tan ênggon ora arah.
22. Nanging tansah dennira nglimputi, sagung ingkang gumêlar neng donya, ngandika tanpa lesane, muhung nyawa puniku, ngganda tanpa garananeki, muhung purba kewala, myat tanpa netraku, muhung saking ing waskitha, amiyarsa tanpa karnanira kalih, muhung saking wisesa.
23. Myang angraos tanpa raos nênggih, muhung pangraos sajatinira, dene ta kosok wangsule, purwaning ana estu, saking ora witipun lair, saking ing kabatosan, witing rame estu, saking ing ênêng sanyata, wit gumêlar saking ing sonya sayêkti, nanging aywa kadriya.
24. Tawang-tuwang tanpa wasananing, bêbasane mangeran kumandhang, wusing atur ulun mangke, sirik saestunipun, anênampik tanapi milih, kalamun anampika, ing sadayanipun, kang gumêlar ngalam-donya, punapinggih tan ginulung malih, kalamun amiliha.
25. Punapa tan uninga manawi, sakehing kang kawontênan apan, saking gaib sejatine, babo ywa nganti kerut, utamine mandar ngurubi, myang sampun kawimbuhan, malah asung wimbuh, punika kewala cêkap, dhumatêng ing dunungnya pangsethi jati, jatining kauwusan.
26. Sigêg ture Sang Kanekasiwi, Sang Hyang Guru sawusing miyarsa, saklangkung lêga ing tyase, rumaos yen panuju, dennya darbe pangesthi bangkit, kadya Sang Hyang Athama, ngratoni sawêgung, de kang nama Hyang Athama, ing srat Jitabsara panjênêngan Nabi, ya Adam Abul Awan.
27. Sang Hyang Guru nulya dhawuh maring, para kadang Dewa miwah putra, bisa-a ngudhuni* (ngudhoni/nguruni) ing reh, ambawa-rasa iku, Hyang Basuki wacana aris, mênggah atur punika, wus lêrês sadarum, namung ing pamanggihingwang, sawêg têlêng dununging pangesthi jati, mring Kang Murbeng Gaiba.
28. Analisir pantoging kang gaib, namung dunungipun kang pinurwa, ing suraos wau dereng, Hyang Guru ngndika rum, palibaya pantareng mami, mara katêrangêna, babar-pisanipun, sabda dadining kasidan, Hyang Basuki mangênjali turira ris, mêdhar wangsit angandhar.
29. Dhuh pukulun saking wasitaning, guru-ulun Pêksi Rukmawatya, wukir Mahendra dhepoke, Hyang Kang Murbeng Gaibul, lajêng murweng anasir rannya, gêni bumi angin we punika dadi, kaananing manungsa.
30. Latu dadya napsune kang jalmi, martandhani cahya catur warna, abrit cêmêng jêne putih, bumi badan jasmanu, martandhni sakawan warni, kulit daging myang tosan, sungsum jangkêpipun, angin kaananing napas, pan ing lesan ing grana ing netra kalih, myang pamyarsaning karna.
31. Dene toyo dados kaananing, êroh catur isining wiryawan, ing Jitabsara têmbunge, inggih asrar puniku, roh jasmani êroh kewani, êroh nabati lawan, roh nurani catur, punika bilih kawula, sigêg ture Bathara Basuki sukci, mangkya Sang Hyang Sriyana.
32. Matur alon ring Hyang Odipati, dhuh pukulun sang Padawinênang, manawi ing wasitane, ing gurunadi-ulun, parab Rêsi Pramana tunggil, saking pangraos-amba, langkung tlêsihipun, ingkang wus kasêbut ngarsa, pasêmone Sang Hyang kang Amurbeng gaib, mênggah pralambangira.
33. Catur sastra-suwara winarni A, I, O Rê*) myang antanwyanjana* (urut-urutaning aksara Jawi), sastra tridasa saptane, makatên wijangipun, aksara A () mila puniki, angka sakawan () lawan, aksara SA () wau, mênggah ing pikajêngira, pan wijining panunggal kawan prakawis, Bahni bantala bajra.
34. Myang baruna wijangipun nênggih, agni bumi angin miwah toya, dene aksara BA () sinung, cêrêg ngandhap () pikajêngneki, bayi dene tan sondha, dados wujudipun, manungsa ingkang sampurna, sarwa sangkêp tan wontên kang kirang luwih, aksara O () wijangnya.
35. Mila aksara WA () denpasangi, aksara DA () mênggah pikajêngnya, mungêl wêdal ing têgêse, pan katingal puniku, aksara Rê () wijangireki, mila PA cêrêg ngandhap, padha kanjêngipun, antara ing têgêsira, sampun jangkêp catur swara têgêsneki, gantya wijiling dênta.
Pupuh 178
M i j i l
1. Myang wyanjana ing jarwanireki, pêpêking ponang wong, nanging dereng mawa repa lire, mabusana jangkêping pakarti, lir jabang duk lair, sing garbaning biyung.
2. Muhung Swara pracihnaning urip, de wujuding karo, sastra dwidasa lan pasangane, yeka kang ran dênta-wyanjaneki, ha na ca ra ka- ki *) (); sapiturutipun.
3. Ha na ca ra ka têgêsneki, won duta kinaot **) (wonten duta kinaot), dunungipun winangsul swarane, ka ra ca na ha lire puniki, lesan ngucap ing da ta sa wa le-ku *) ().
4. Têgêse Dat kacihna swareki, dununging suraos, wangsul swara la wa sa ta da-ne, nggih punika pratandha salami, pa dha ja ya nya-ki, () lire sami unggul.
5. Pan punika pancadriya yêkti, dununging suraos, wangsul swara nya ya ja dha pa-ne, lirnya tan pêgat pangidhêpneki, ma ga ba tha nga-ki (), nênggih têgêsipun.
6. Babatangan sarira puniki, wit dadosing kawroh, dunungipun winangsul swarane, nga tha ba ga ma têgêsireki, ngentha satataning, ngantareng Hyang Agung.
7. Sajatine wontên manungseki, srêngkaraning raos, liring srêngkara abên-manise, rasa-rumangsa saliring osik, kawula lan Gusti, pamor ing sawujud.
8. Dene pasangan pêcahireki, ricikan rajah wong, munggeng angga makatên wijange, ha () lidhah mila dipuntêgêsi, ngetokkên sakapti, awit lidhah wau.
9. Anut pakening karsa sayêkti, clupakan netra ro, pasangan na () mila ing têgêse, katêrangan wit luwakan aksi, pan karya wênganing, Hyang Pramana tuhu.
10. Pasangan ca () tangan têgêsneki, kancuhaning batos, awit tangan dados kancuhane, osiking tyas nartani pakarti, ra () manik winardi, sosotya punika.
11. Wit têrsandhanira wontên manik, rahsa saraseng don, kang manrangi ing lair batine, ka () cangklakan pundhak denwêrdeni, kukuh dene kardi, pikuwating bau.
12. Pasangan da () kalamênjing warni, apanjang kinaot, wit manjangkên ing jangga wujude, pasangan ta () cangklakaning sikil, winastan cacêthik, prênah têgêsipun.
13. Dene dadya lantaran yêkti, kuwatin ngalunggoh, anartani tata-trapsilane, pan minangka lambaraning takrim, antuk suku kalih, dadya ugêripun.
14. Pasangan sa () jaja antaraning, têgêsipun golong, dene dadya kanthi sayêkti, awit jaja dununging piranti, pirantining urip, parabot kang parlu.
15. Pasangan wa () bau ingkang kering, tinêgêsan karo. Dene dadya kanthi sayêktine, bau kanan lalawananeki, jangkêping pakarti, bau ro puniku.
16. Pasangan la () gêgêr kanan kering, têrusan njaba jro, dene nêrusi jaja ngajênge, pasangan pa () lambe ngandhap nênggih, mila dentêgêsi, patitis puniku.
17. Dene bangkit mijilkên yêkti, pangucap cumêplos, tan kaleru tampining osike, pasangan dh () nnggih dentêgêsi, dadalan sêjati, wit dhadha puniku.
18. Dados margi pratandhaning uirp, kakêtêg ing jêro, mangka paliwaraning Atmane, pasangan ja () sandhing thêthêngiling, jaja dentêgêsi, patitis puniku.
19. Dene dados pangajênging ciri, ayu kajêngipun peranging kono, aksara *) (wujuding aksara tuwin pasanganipun sami) ya () babau kanane, tinêgêsan cuthat wit nampeni, karêntêging ati, tumindak sakayun.
20. Pasangan nya () luwakaning ngaksi, kang kering kinaot, mila tinêgêsan mulung lire, dene bangkit amêngani kapti, sasmitaning liring, ngênani panuju.
21. Pasangan ma () janggut dentêgêsi, bundêran wang karo, aksara ga *) (wujuding asksa sami kalaiyan pasanganipun) () jangga wingking lire, agêng dene panggenaning nginggil, sanginggil angkeki, kêrêtang pok gulu.
22. Pasangan ba () pasu wujudneki têgêsira karo, lire kêmbar nrambahi mukane, pasangan tha () wujuding thi-athi, tinêgêsan nênggih, tulising mukeku.
23. De mimbuhi asrining suwarni, antareng karno ro, pasangan nga () nênggih bolongane, ing grana mila dentêgêsi, pangingsêp wit saking, panggandasmareku.
Pupuh 179
Asmaradana
1. De cêcêg () grana lirneki, sami lawan aksara nga, wulu () sirah ing têgêse, pêpêt () têgêse mbun-êmbunan, layar () lirira jaja, sami lawan ra punika, dene cakra () têgêsira.
2. Midêr lawan amêngkoni, yeku dhadha têgêsira, ingaran sawarga lire, pangiraning tyas punika, kawêngku jroning dhadha, marma pasangan dha jumbuh. Pikajênge lawan cakra.
3. Taling () têgêsira kuping, tarung () thêthêngêling karna, ingaranan srêngkara, abên-manis têgêsipun, marma ingaran mangkana.
4. Krana dadi lantaraning, pacampuring rahsa mulya, dene wa () gêmbung têgêse, pan punika bau kiwa, pengkal () pan bau kanan, wignyan () cangkêm têgêsipun, ing dununging pamicara.
5. Winastan wisarja nênggih, lire bêcik klawan ala, saking tutuk ing margane, rinan malih awiyarja, luwih bêcik têgêsnya, saknya malih têgêsipun, nut sapakon têgêsira.
6. Pakoning manah sayêkti, mulya sae nulya ala, tutuk darma mêdharake, pangkon () pandhaku lirira, ingaranan pêjahan, sing aksara kang pinangku, sayêkti wujud manungsa.
7. De cahya kawan prakara, cêmêng abrit jêne pêthak, nênggih ing panjing surupe, cahya cêmêng anjingira, sumurup cahya rêta, rêta manjing surupipun, nênggih maring cahya jênar.
8. Jênar manjing surupneki, maring cahya ingkang pêthak, cahya pêthak ing surupe, maring cahya mancawarna, cahya kang mancawarna, mring cahya mancorong iku, nênggih panjing-surupira.
9. Cahya kang mancorong manjing, mring cahya mancur surupnya, cahya umancur surupe, mring cahya wêning punika, cahya wêning surupnya, mring cahya gumilang iku, cahya gumilang surupnya.
10. Marang cahya ingkang gaib, têgêse gaib pan samar, kendêl Sriyana ature, Hyang Guru kelangkung suka, karênan ing wardaya, dene ta punika kawruh, kapralambang saking sastra.
11. Sang Hyang Sriyana sinung sih, pinaraban Panyarikan, jawata jumurung kabeh, mangayubagya ing karsa, sigêg Sriyana turnya, tandya Sang Endra sumambung, matur sarwi ngaraspada.
12. Saking raosipun maksih, kadho-kadho ing pangancas, nênggih dhatêng ing kajaten, awit maksihkaroneyan, bokbilih tidha-tidha, pamanthênging tyas kalentu, korup dhatêng panguripan.
13. Manawi pamanthêng kami, namung riningkês kewala, dhatêng ênêng lan êninge, dene dadose dumadya, rupa warna busana, pangracutipun pan namung, rasa ambu warna rupa.
14. Mênggahing pangancas-kami, saestu datan nalimpang, muhung mring nukat gaibe, pukulun pangraos amba, wus tan ana tisna-a, nêtês naratas wus putus, wasana ulun sumangga.
15. Sigêg Sang Hyang Endrapati, dennya medhar pangawikan, mangkya Hyang Wisnu ature, nuwun mênggah aturira, risang Hyang Panyarikan, kawruh kapralambang dhaup, lawan sastra samoanya.
16. Ingkang punika mêwahi, têranging kang sasêrêpan, mênggah saking wasitane, Sang Ngusmanajid gurwamba, kaananing manungsa, punika anunggil dhapur, lan kang nglimputi sarira.
17. Purwanya namung satunggil, kadamêl kalih ilapat, dene ta binasakake, kakalih ingkang ilapat, langkung kang amicara, winastan kalih saestu, winastanana satunggal.
18. Sayêktosipun satunggil, mênggah sastra tanah Ajam, kang tumrap angga kathahe, jangkêp tigangdasa sastra, saking enget kuwula, Hyang Pramesthi ngandika rum, mara kulup wêdharêna.
19. Sang Hyang Wisnu mangênjali, sareh wêdaling wacana, alip (…ﺍ…) maripat kalihe be (…ﺏ…) bolongane kang grana, te (…ﺕ…) ing utêng dunungnya, se (…ﺙ…) daging jim (…ﺝ…) sirah lungguh, ke alit (…ﺡ…) karna kang kanan.
20. Ke ageng (…ﺥ…) karna kang kering, dal alit (…ﺩ…) bau kang kanan, dal agêng (…ﺫ…) bau keringe, ra (…ﺭ…) iga têngên kiwa, je (…ﺯ…) iga ingkang kiwa, sin alit (..ﺱ….) têngêng kang susu, sin agêng (…ﺵ…) susu kang kiwa.
21. Sad (…ﺹ…) lambung kang têngên nênggih, êdhot (…ﺽ…) lambung ingkang kiwa, te (…ﻁ…) kukulung ati nggonne, dha (…ﻅ…) ing jantung dunungira, ngain (…ﻉ…) pupu kang kanan, ghin (…ﻍ…) pupu kiwa dumunung, fe (…ﻑ…) suku têngên ênggonnya.
22. Khaf (…ﻕ…) ing dhêngkul têngên nênggih, kaf (…ﻙ…) suku kiwa dunungnya, lam (…ﻝ…) ing wêtêng, min (…ﻡ…) otote, nun (…ﻥ…) balung, wawu (…ﻭ…) gigirnya, ehe (…ﻫ…) tlapakan kanan, lam-alip (…ﻻ…) dunungipun, aneng lathining manungsa.
23. Ambyah (…ﺀ…) dhêngkul kiwa nênggih, ya (…ﻱ…) tlapakan ingkang kiwa, jangkêp sastra tridasane, mangkya rêringkêsanira, badane kang manungsa, ing saestunipun sampun, inggih angucap piyambak.

——————
*) Alip dumugi ya ing pada 19 dumugi 23, aksara Arab tigangdasa, panyêratipun Latin kirang cocok kaliyan ungêlipun, mila ing wingkingipun kasêrat aksara Arabipun ing kurungan (……) ingkang boten perlu kawaos. Aksara Arab wau ing buku aslinipun botên kaserat. Ing ngriki katambahakên murih cêthanipun.

24. Makatên panabdaneki, Ashadu Allah illaha, Illa Allah de wijange, As kulit ha dagingira du gêtih, Allah, urat ilaha iku babalung, illa sungsum Allah utak.
25. Manungsa kalamun guling, mangka matrapkên sukunya, kakalih dhinempetake, dumadi wujud sajuga, dlamakan kalih pisan, tinapakkên sikut kakalih tumumpang.
26. Aneng ing prajaneki, asta kekalih kinêmpal, dados sajuga wujude, ingadêgakên sadaya, punika sampun tansah, anêbut ing namanipun, tuwin namaning Pangeran.
27. Gumaluntung ingkang jalmi, punika mungêl Muhammad, dene pratingkahe sare, mungêl Asmaning Pangeran, Allah Pangeraningrat, kang murbeng pasthi satuhu, wijange kawikanana.
28. Awit ing sirah dumugi, pungkasan ingkang jangga, aksara min (mim) awalane, pinêcah dumadya tiga, kêlênging kalih netra, manjing mring Dating Allahu, kang kalair sadayanya.
29. Mênggah kajêngipun nênggih, dhatêng makripat mukadas, mungêl la ing grêbanane, mangkya awit ing pranaja, dumugi cêthikira, aksara ahe (ehe) punika, lajêng kawijang triwarna.
30. Wujudipun khe manjing maring, Sipat Allah kang lair pan, dene punika kajênge, maring Kakekat mukadas, grêbanipun winawas, anênggih tan liyan namung, ing ungêlipun Illaha.
31. Lajêng wit jênthik dumugi, ing dhêdhêngkul kering kanan, punika min (mim akirane, ugi einijang titiga, wujuding kang aksara, manjing maring Asma Allahu, ingkang kalair sanyata.
32. Kajêngipun tan lyan maring, dhatêng tarekat mukadas, ginêrba ungêle, muhung maring lapal Illa, pungasan winursita, awit kakalih kang dhêngkul, dumugi driji dlamakan.
33. Yeku aksara dal yêkti, lajêng kawijang titiga, wujuding kang aksarane, manjing mring Apêngal Allah kang, lair de kajêngnya, mring Sarengat mukadasu, grêbanipun mungêl Allah.
34. Aturulun sampun titi, kawontênaning wasita, muhung amrih ywa tumpang so, winujudakên ing gambar, tinrapkên ing ron êtal, ciniren katranganipun, gambar kalih dyan binabar.
35. Mawa cahya anêlahi pindha ulading (alading dahana, ubaling) dahana, surem Hyang Rawi sorote, binarung swara gurnita, kilat thathit liwêran, horêg sapta bantalaku, mêsês kanang bayu bajra.
36. Lir kinêbur kang jaladri, pêthite Hyang Antaboga, kumitir horêg anggane, satêmah ingkang bantala, gonjang-ganjing ruhara, ardi Jamusdipa njêpluk (njêbluk), kadi papêdhut rinaras.
37. Sang Bathara Odipati, Sang Rêsi Kanekaputra, miwah Sang Hyang Basukine, Hyang Rndra Hyang Panyarikan, wus sadaya tan kuwawa, anyêlaki gambar wau, lir sinambêr gêlap lêpat.
38. Sadaya wus dhawah saking, palênggahan sowang-sowang, sumaput lir nir jiwane, muhung Sang Bathara Suman, tan owah dennya lênggah, gambar kalih dyang ranacut, wus sirna kang gara-gara.
39. Nahên kang gumuling siti, pungun-pungun wus waluya, wangsul mring palênggahe, karsane Hyang Mahanasa, sadaya kang kawêdhar, dening Hyang Bathara Wisnu, dilalah samya kalepyan.
40. Kadya anggane angimpi, wungu nendra tan kengêtan, dhumatêng ing supênane, muhung Sang Hyang Guirinata, jroning tyas gung ginagas, ginilut jumbuhing kawruh, tambah ingkang pangawikan.
41. Mangkono Hyang Wisnu Murti, graiteng tyas datan samar, dhumatêng kaanane, pinunggêl kang pangandika, amangsuli pangiwa, mangkana ing aturipun, dhuh Hyang Hyang Padawinênang.
42. Aturnya Kanekasiwi, myang Basuki Panyarikan, tanapi Endra ature, ingkang Makatên punika, inggih lêrês sadaya, nanging ing pamanggihulun, panggêlar panggulungira.
43. Taksih tumpang so tan mathis, manawi ing wasitanya, guru ulun Sang kinaot, Ngusmanajid ingkang usman, asalipun manungsa, inggih saking hêb satuhu, tumurun pan dados cahya.
44. Kasumupan ponang bumi, dahana maruta tirta, makatên mênggah dununge, jasat napsu napas rokyat (rohkyat), ingkang rumiyin dadya, ponang rohkyat napas napsu, kapat jasat kanthinira.
Pupuh 180
Kinanthi
1. Sawêg samantên turipun, dennya mêdhar sabda rungsit, Hyang Guru aris ngandika, eh kulup bênêr sireki, apa tan unggul dahana, de sira unggulkên bumi.
2. Luwih asor bumi iku, yêkti unggul ingkang agni, Hyang Wisnu matur manêmbah, sami lêrêsipun ugi, manawi bangsaning Ejan, linuhurkên ingkang agni.
3. Awit asal saking latu, luhuripun saking jin, Banujan jin Idajila, ing srat Jitabsara sami, Sang Hyang Handyan Hayang Banujan, di Anjiyasmal jibai.
4. Hyang Guru malih tanya rum, balik sira iku kaki, asalmu saka ing apa, Wisnu matur mangênjali, ulun manungsa kajiman, nanging luhur ingkang saking.
5. Manungsa sayêktinipun, kaliyan kajiman mami, eh kulup apa ta nora, rumuhun bangsaning Ngêjin, lêrês pukulun punika, nanging tumtaping ring mami.
6. Miwah sarira pukulun, punika rumiyin janmi, kang awit Dang Hyang Ad-Hama, Sang Hyang Siwa ingkang ugi, Nabi Sis minulya, punika manungsa jati.
7. SarVng ing dumuginipun, Sang Hyang Nurcahya ing ngarsi, nVnggih nama Sayid Anwar, lajêng Sang Hyang Nur-raseki, Sang Hyang Wênang Sang Hyang Tunggal, sirna kamanungsaneki.
8. Jisim rohkani sadarum, tan katon dipuntingali, sarêng dumugi paduka, amêngku ing Alam kalih, sagêd botên katingalan, saged katingal ing jalmi.
9. Amargi kanjêng pukulun, mangesthi sagêd ngratoni, manungsa lir Hyang Ad-Hama, Hyang Guru ngandika malih, bênêr kaya tekatira, amung kanggo mênang êndi.
10. Tekatira kang saestu, apa manungsa apa jin, Sang Hyang Wisnu aturira, ulun angge lair batin, ing batin manungsa-tama, ing lairipun pan êjin.
11. Wit ulun urutkên estu, asale jiwa rageki, kamanungsan ulun asal, saking luluhur pribadi, mila kangge kabatinan, amarga jalu pinasthi.
12. Dados lalantaranipun, kang wontênkên *) (ngawontênakên) jiwa mami, mênggah kajiman kawula, saking ing leluhur estri, kang awit Sang Hyang Nurcahya, kamantu dening Raja Jin.
13. Mila punika pukulun, kawula anggêp ing lair, eh kulup têlênging tekat, apa ora anêtêpi, babasan kabali sura, myang sungsang bawana balik.
14. Bathara Wisnu turipun, boten ing saestu neki, ing ngandhap ing nginggil kebalt, kawêngku ing têngah awit, wontênipun winastanan, ing ngandhap tuwin ing nginggil.
15. Yeku ancêr-ancêipun, wontên ing manungsa jati, Sang Hyang Guru duk myarsa, asru karênaning galih, babo atmajengsun Suman, sira angunggal pangesthi.
16. Kalawan ing jênêng-ingsun, mangkya sira su wêwahi, paparaba Narayana, mratandhani kahananing, sira manungsa sanyata, Sang Hyang Wisnu mangastuti.
17. Para jawata sadarum, abipraya nêmbadani, sasampunira mangkana, Sang Hyang Wisnu nulya kardi, ekal cakra dadya tandha, bundêring santoseng ati.
18. Nahan ta Bathara Guru, sawusira amiyarsi, ature kadang dewa, lan putra Bathara kalih, tyas langkung marwata suta, sinung ilhaming Hyang Widhi.
19. Sadaya sampun kacakup, datan ana ingkang cicir, dhawuh wijiling kang sabda, kadang dewa sadayeki, myang putranipun bathara, ing samangkya karsamami.
20. Kumpulung kawruh sadarum, ingsun dadekkên sawiji, minangka wawatoning kang, kawruh kadeatan adi, dadiya gêbênganira, suteng-ulun Endrapati.
21. Nanging ingsun kêkêr kukuh, sarta ingsun waranani, lawan hya kongsi kajambar, sadhengahing manungseki, supayane iku haywa, madhehkên ing Jawata di.
22. Marmane manira asung, pralambang iku yen bangkit, iya dadya manrimanya, ingkang sarta banjur dadi, ing Sanstra Cêtha priyangga, ing sadurungira dadi.
23. Ing Sastra Cêtha puniku, apan ta ingsun-aranni, Sastra jendra ayuninrat, pangruwat diyu rasêksi, wanara salaminira, dêlahan nunggal jalma-di.
24. Iku ta ing lairipun, dadiya ambêk bumi, mungguh ta ing kabatinan, dumadiya pancadaning, sangkan paraning dumadya, nunggal kawula lan Gusti.
25. Mratandhanana saestu, kanugrahan ingkang dhingin, limang ukara kehira, dumadi ambêgireki, mungguh ta ingkang ingaran, Panca purwanda pangrawit.
Pupuh 181
S i n o m
1. Kang dhingi ambêging surya, kapindho ambênging bumi, katri ambêging maruta, catur ambêging jaladri, panca ambêging langit, ing sapangkat maneh iku, aran Panca Dumadya, iku kadadyanireki, apan uga tumangkar limang prakara.
2. Kang dhingi babaring tigan, dwi lêpasing sastra-lungit, tumamaning punglu tri-nya, catur pêdhang lumaraping, lima rêmbêsing warih, ing sapangkat maneh iku, aran Panca Pranata, dadi pratandhanireki, apan uga tumangkar limang prakara.
3. Mandhêg iku kang kapisan, angkêr ingkang kaping kalih, sumunu kang kaping tiga, sumulap kaping patneki, mamarap ping limeki, dadi tri golonganipun, lah para kadang dewa, lan putra bathara kalih, kono padha surasanen tranging nala.
4. Kadiparan karêpira, lawan kadadeyaneki, nahên para kadang dewa, lositanireng panggalih, bangkit mbabarkên nanging, tan sagêd panangkaripun, tuwin kakalih putra, asagêd mêcah ananging, tan kuwawa maradhahi kang surasa.
5. Sadaya matur sumangga, Hyang Guru ngandika malih, eh kadangingsun pra dewa, lan putraningsun kalih, marmanira sireki, ywa ngaku pintêr kalangkung, mundhak kablingêr padha, kang awit babasaning ling, jalma pintêrpasthi kasor dening jalma.
6. Kang sugih pratikel tatas, de jalma pratikel awig, kasor dening jalma ingkang, inggil luhur misesani, margi margi kang Murbeng pasthi, anamtokkên jênêngingsun, ginadhuhan wisesa (ginadhukan kang wisesa), lwih kuwasa jênêngmami, sumurupa duninunging andikaningwang.
7. Mungguh abênging kang surya, amongat têmbungireki, jarwane among samoa, awit ta ananing rawi, tansah angon sakalir, ngulatkên sakeh tumuwuh, tumrape mring pambêgan, eling dene dunungneki, ing pramana dadi nora kasamaran.
8. Ambeging bumi winarna, sun-têbungkên amot yêkti, karêpe amot sadhengah, dene kaananing bumi, bobot sakeh dumadi tumraping, pambêkan bakuh, dununge ing jatmika, sarira antêng tyas mintir, ing wasana dadi nora berabeyan.
9. Ambêking kanang maruta, sun-têmbungkên kamrat yêkti, karêpe kamot sabarang, dene kaananing angin tansah katadhah dening, samoaning kang tumuwuh, tumrape mring pambêkan, têmên dene dunungneki, aring ingkang napas dadi tan ndaleya.
10. Nahan ambêking sagara, sun-têbungakên mamrat yêkti, karêpe momot tan wêgah, kaananing kang jaladri, tan nampik datan milih, sasarah tumaneng laut, tumrap pambêkan sabar, neng rêrêming rasa jati, dadi nora pradulen sugih waonan.
11. Kanang ambêking akasa, sun-têmbungkên mangkyat nênggih, kaêpe pamêngka ika, dene kaananing langit, datan sah angaubi, saisining ngrat kawêngku, tumrap ambêg santosa, dumunung sarehing kapti, dadi nora gimirên karêp sadhengah.
12. Lah ta padha kawruhana, kumpule pambêkan gati, among amot kamot miwah, momot mêngku jangkêpneki, dene tumrapireki, pambêkan lilima iku, eling têmên mantêp lan, sabar santosaning ati, de dununge pambêkan limang prakara.
13. Pramana jatmika ing tyas, aringing napasireki, kalawan rêrêming rahsa, sareh ing karsa mumpuni, mungguh dadinireki, pambêkan lilima mau, tan samar tan dahwenan, tan sêmbrana lawan malih, tan panasan tan gimiran pungkasannya.
14. Mêdhar kang Panca Dumadya, limang ukara ginupit, angin babaring antiga, nalika ingsun arani, têtêp karêpireki, tetela ing ananipun, têtêp dadining gêsang, kawahana tandhaneki, de tandhane iku ana ing pangrasa.
15. Pindho lêpasing kang manah, ramatas ingsun arani, karêpe tatas naratas, yeku têdhas anêdhasi, satuhu anêtêpi, sangkan paraning tumuwuh, dene ta pratandhannya, sonya ruri anartani, nyatanira ing pamyarsaning kang karna.
16. Kaping tri tumamanira, punglu mamis sun arani, tumêlêng karêpe apan, patitis iku ngencoki, datansah anêtêpi, marang dudununganipun, tumanêm pratandhanya, nyatane lungguhireki, aneng lathi iya iku pamicara.
17. Kaping pat laraping pêdhang, maratas ingsun arani, karêpe mring kaputusan, pêgat tanpa kiwir-kiwir, babarpisan nêtêpi, tandha kasampurnanipun, nyatane ing pangganda, arum bangêr amis bacin, arum sêdhêp kanyataan saka grana.
18. Ping lima rêmbêsing toya, tumuhas ingsun arani karêpê tumus arabas, iku têrus anêrusi, dene ptatandhaneki, linggabathara satuhu, jumênêng batharanya, mungguh kanyataaneki, ing paningal jangkêp kang Panca dumadya.
19. Kumpule kadadyan lima, têtêp tatas sarta titis, putus tumus sah lilima, gênahe lilima maring, tetela têdhas tuwin, angincoki pêgatipun, kanyataaning lima, kawahana sunyaruri, myang tumanêm sampurna lingga-bathara.
20. Nyatane ing kadadeyan, lilima tan liyan maring, pangrasa ingkang kapisan, ing karna kang kaping kalih, ing lesan kaping katri, ing grana kang kaping catur, ing paningal ping gangsal, kadang dewa putra sami, sru katrêsnan umatur kalajêngêna.
21. Odipati mêdhar sabda, prabawa limang prakawis, nahan landhêp kang kapisan, iku sun arani lêngit, marang singit karêmpit, karêpira iya iku, mamêdeni wong kathah, dene wus anjumbuhi, kalawan Hyang Maha Suksma Kang Kawêkas.
22. Wus anunggal sakaanan, sarira suksma pribadi, kapindhone kawaskitan, wikan purwaning dumadi, ing agal miwah rêmit, sawujud Bathara Luhung, akaprabawan saka, waskithanireng panggalih, kaya-kaya uning sadurung winahya.
23. Sumunu kang kaping tiga, iku lênyêp sun arani, karêpe wingit sanyata, antêng ruruh anyênênni, de wus nugraha jati, Bathara ingkang linuhung, kaprabawanan saka, sarwa dyatmika ing budi, nênging(~) nala nêrusi marang sarira.
24. Sumulap ingkang kaping pat, lêmarap ingsun arani, angulapi karêpira, iya iku (m)balêrêngi, kang mandêng tan kuwawi, dene ta uwus saestu, rikang sotya-bathara, awit kaprabawan saking, anarawang sadaya sarwa pramana.
25. Mamarap kang kaping lima, lêmahab ingsun arani, maladi karêpe ika, iya iku angurubi, dene ta wus linêwih, sajiwa bathara iku, wus kaprabawan saka, sarwa wibawa wiryadi, uwus ganêp prabawa limang prakara.
26. Kumpule prabawa lima, juga lungit kadwi wingit, tri wingit ngulabi warna, kaping limane maladim gênahe prabaweki, kang sapisan iku alus, mêdeni kapindhonya, kaping trine anyênêni, pat (m)blêrêngi amaladi limanira.
27. Prabawa ingkang prabawa, waskitha ingkang rumiyin, pangrasa ping kalihira, dyatmika kang kaping katri, pramana caturneki, wibawa ping limanipun, atusing pangandika, -nira Sang Hyang odipati, myang pra dewa dyan muksa mring pakayagan.
28. Mangkane kang Sastra Cêtha, mungguh Panca purwandeki, bumi gêni angin toya, dadi jasate kang jalmi, langit ngibaratneki, ing alam suwung sathu, dene wus kanyataan, amêngkoni ing dumadi, de karêpe batin mêngku kalairan.
29. Dene ta Panca dumadya, Pancadriya dunungneki, pangraos ingkang sapisan (˚) pamyarsa kang kaping kalih, pangucap kang kaping tri, pangganda kang kaping catur, paningal kang kaping lima, sadayeku padha dadi, trêsandhaning uripe ingkang manungsa.
30. Mungguh kang Panca prabawa, puniku amratandhani, katarimaning manungsa, katarimaning manungsa, katingaling sarira di, waskitha têgêsneki, lêrêsing pramana estu, pangrasa têgêsira, lêpasing karya sayêkti, pramana pan lêpasing pandulunira.
31. Dyatmika ing têgêsnira, sênênning cahya mranani, wibawa têgêse apan, mêngku sakeh raos jati, pinetak lima malih, sarira-bathara iku, uwus abadan budya, sawujud bathara nênggih, satuhune uwus nunggal warna rupa.
32. Nugraha bathara ika, uwus ênêng sarta êning, netra-bathara iku apan, uwus linêpas ing budi, sajiwa-bathara di, wus langgêng kaananipun, kawula Gusti nunggal, lah anakmas wus baresih, Sastra Jendra unggahe mring Sastra Cêtha.
Nyuwun agunging samudra pangaksama dumateng sadaya para sarjana ugi pinisepuh mugi purun nampi keladhug kurang trapsilaning pun Kumitir sampun kumalancang wantun ngedalaken kawruh ingkang sinengker punika, Kumitir namung sadermi ngleruri kabudayan Jawi paribasan : ‘canthing jail dicidhukna banyu segara olehe iya mung sathithik, lowung dene taksih saged nyidhuk, sanadyan namung saisining canthing jail, tinimbang suwung blung. Sampun titi tamat wedharing kawruh Sastra Jendra Hayuningrat menggah unggahing mring Sastra Cêtha, tumplêg ing maknawi kinarya lalantaran ing agêsang wus anyêkapi, mugiya tansah angsal kanugrahan saking ngarsaning Hyang Murbeng Gesang. Rahayu.

Kamis, 06 September 2012

Kitap jayo boyo

  1. Kitab Musarar inganggit, Duk Sang Prabu Joyoboyo, Ing Kediri kedhatone, Ratu agagah prakosa, Tan ana kang malanga, Parang muka samya teluk, Pan sami ajrih sedaya,
  2. Milane sinungan sakti, Bathara Wisnu punika, Anitis ana ing kene, Ing Sang Prabu Jayabaya, Nalikane mangkana, Pan jumeneng Ratu Agung, Abala para Narendra,
  3. Wusnya mangkana winarni, Lami-lami apeputra, Jalu apekik putrane, Apanta sampun diwasa, Ingadekaken raja, Pagedongan tanahipun, Langkung arja kang nagara,
  4. Maksihe bapa anenggih, Langkung suka ingkang rama, Sang Prabu Jayabayane, Duk samana cinarita, Pan arsa katamiyan, Raja Pandita saking Rum, Nama Sultan Maolana,
  5. Ngali Samsujen kang nami, Sapraptane sinambrama, Kalawan pangabektine, Kalangkung sinuba suba, Rehning tamiyan raja, Lan seje jinis puniku, Wenang lamun ngurmatana.
  6. Wus lenggah atata sami, Nuli wau angandika, Jeng Sultan Ngali Samsujen, “Heh Sang Prabu Jayabaya, Tatkalane ta iya, Apitutur ing sireku, Kandhane Kitab Musarar.
  7. Prakara tingkahe nenggih, Kari ping telu lan para, Nuli cupet keprabone, Dene ta nuli sinelan, Liyane teka para,” Sang Prabu lajeng andeku, Wus wikan titah Bathara.
  8. Lajeng angguru sayekti, Sang-a Prabu Jayabaya, Mring Sang raja panditane, Rasane Kitab Musarar, Wus tunumplak sadaya, Lan enget wewangenipun, Yen kantun nitis ping tiga.
  9. Benjing pinernahken nenggih, Sang-a Prabu Jayabaya, Aneng sajroning tekene, Ing guru Sang-a Pandita, Tinilar aneng Kakbah, Imam Supingi kang nggadhuh, Kinarya nginggahken kutbah.
  10. Ecis wesi Udharati, Ing tembe ana Molana, Pan cucu Rasul jatine, Alunga mring Tanah Jawa, Nggawa ecis punika, Kinarya dhuwung puniku, Dadi pundhen bekel Jawa.
  11. Raja Pandita apamit, Musna saking palenggahan, Tan antara ing lamine, Pan wus jangkep ing sewulan, Kondure Sang Pandita, Kocapa wau Sang Prabu, Animbali ingkang putra.
  12. Tan adangu nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga.
  13. Wonten ta ajar satunggil, Anama Ajar Subrata, Pan arsa methuk lampahe, Mring Sang Prabu Jayabaya, Ratu kang namur lampah, Tur titis Bathara Wisnu, Njalma Prabu Jayabaya
  14. Dadya Sang Jayabaya ji, Waspada reh samar-samar, Kinawruhan sadurunge, Lakune jagad karana, Tindake raja-raja, Saturute laku putus, Kalawan gaib sasmita.
  15. Yen Islama kadi nabi, Ri Sang aji Jayabaya, Cangkrameng ardi wus suwe, Apanggih lawan ki Ajar, Ajar ing gunung Padhang, Awindon tapane guntur, Dadi barang kang cinipta.
  16. Gupuh methuk ngacarahi, Wus tata dennya alenggah, Ajar angundang endhange, Siji nyunggi kang rampadan, Isine warna-warna, Sapta wara kang sesuguh, Kawolu lawan ni endang.
  17. Juwadah kehe satakir, Lan bawang putih satalam, Kembang melathi saconthong, Kalawan getih sapitrah, Lawan kunir sarimpang, Lawan kajar sawit iku, Kang saconthong kembang mojar.
  18. Kawolu endang sawiji, Ki Ajar pan atur sembah, “Punika sugataningong, Katura dhateng paduka,” Sang Prabu Jayabaya, Awas denira andulu, Sedhet anarik curiga.
  19. Ginoco ki Ajar mati, Endhange tinuweg pejah, Dhuwung sinarungken age, Cantrike sami lumajar, Ajrih dateng sang nata, Sang Rajaputra gegetun, Mulat solahe kang rama.
  20. Arsa matur putra ajrih, Lajeng kondur sekaliyan, Sapraptanira kedhaton, Pinarak lan ingkang putra, Sumiwi muriggweng ngarsa, Angandika Sang-a Prabu, Jayabaya mring kang putra.
  21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.
Sinom :
  1. Pan iku uwis winejang, Mring guru Pandita Ngali, Rasane kitab Musarar, lya padha lawan mami, Nanging anggelak janji, Cupet lelakoning ratu, lya ing tanah Jawa, Ingsun pan wus den wangeni, Kari loro kaping telune ta ingwang.
  2. Yen wis anitis ping tiga, Nuli ana jaman maning, Liyane panggaweningwang, Apan uwus den wangeni, Mring pandita ing nguni, Tan kena gingsir ing besuk, Apan talinambangan, Dene Maolana Ngali, Jaman catur semune segara asat.
  3. Mapan iku ing Jenggala, Lawan iya ing Kediri, Ing Singasari Ngurawan, Patang ratu iku maksih, Bubuhan ingsun kaki, Mapan ta durung kaliru, Negarane raharja, Rahayu kang bumi-bumi, Pan wus wenang anggempur kang dora cara.
  4. Ing nalika satus warsa, Rusake negara kaki, Kang ratu patang negara, Nuli salin alam malih, Ingsun nora nduweni, Nora kena milu-milu, Pan ingsun wus pinisah, Lan sedulur bapa kaki, Wus ginaib prenahe panggonan ingwang.
  5. Ana sajroning kekarah, Ing tekene guru mami, Kang naina raja Pandita, Sultan Maolana Ngali, Samsujen iku kaki, Kawruhana ta ing mbesuk, Saturun turunira, Nuli ana jaman maning, Anderpati arane Kalawisesa.
  6. Apan sita linambangan, Sumilir kang naga kentir, Semune liman pepeka, Pejajaran kang negari, Hang tingkahing becik, Nagara kramane suwung, Miwah yudanegara, Nora ana anglabeti, Tanpa adil satus taun nuli sirna.
  7. Awit perang padha kadang, Dene pametune bumi, Wong cilik pajeke emas, Sawab ingsun den suguhi, Marang si Ajar dhingin, Kunir sarimpang ta ingsun, Nuli asalin jaman, Majapahit kang nagari, lya iku Sang-a Prabu Brawijaya.
  8. Jejuluke Sri Narendra, Peparab Sang Rajapati, Dewanata alam ira, Ingaranan Anderpati, Samana apan nenggih, Lamine sedasa windu, Pametuning nagara, Wedale arupa picis, Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar.
  9. Juwadah satakir iya, Sima galak semu nenggih, Curiga kethul kang lambang, Sirna salin jaman maning, Tanah Gelagahwangi, Pan ing Demak kithanipun, Kono ana agama, Tetep ingkang amurwani, Ajejuluk Diyati Kalawisaya.
  10. Swidak gangsal taun sirna, Pan jumeneng Ratu adil, Para wali lan pandhita, Sadaya pan samya asih, Pametune wong cilik, Ingkang katur marang Ratu, Rupa picis lan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padang.
  11. Kaselak kampuhe bedhah, Kekesahan durung kongsi, Iku lambange dyan sirna, Nuli ana jaman maning, Kalajangga kang nami, Tanah Pajang kuthanipun, Kukume telad Demak, Tan tumurun marang siwi, Tigangdasa enem taun nuli sirna.
  12. Semune lambang Cangkrama, Putung ingkang watang nenggih, Wong ndesa pajege sandhang, Picis ingsun den suguhi, lya kajar sauwit, Marang si Ajar karuhun, Nuli asalin jaman, Ing Mataram kang nagari, Kalasakti Prabu Anyakrakusumo.
  13. Kinalulutan ing bala, Kuwat prang ratune sugih, Keringan ing nungsa Jawa, Tur iku dadi gegenti, Ajar lan para wali, Ngulama lan para nujum, Miwah para pandhita, Kagelung dadi sawiji, Ratu dibya ambeg adil paramarta.
  14. Sudibya apari krama, Alus sabaranging budi, Wong cilik wadale reyal, Sawab ingsun den suguhi, Arupa bawang putih, Mring ki Ajar iku mau, Jejuluke negara, Ratune ingkang miwiti, Surakalpa semune lintang sinipat.
  15. Nuli kembang sempol tanpa, Modin sreban lambang nenggih, Panjenengan kaping papat, Ratune ingkang mekasi, Apan dipun lambangi, Kalpa sru kanaka putung, Satus taun pan sirna, Wit mungsuh sekuthu sami, Nuti ana nakoda dhateng merdagang.
  16. Iya aneng tanah Jawa, Angempek tanah sethithik, Lawas-lawas tumut aprang, Unggul sasolahe nenggih, Kedhep neng tanah Jawi, Wus ngalih jamanireku, Maksih turun Mataram, Jejuluke kang negari, Nyakrawati kadhatone tanah Pajang.
  17. Ratu abala bacingah, Keringan ing nuswa Jawi, Kang miwiti dadi raja, Jejuluke Layon Keli, Semu satriya brangti, Iya nuli salin ratu, Jejuluke sang nata, Semune kenya musoni, Nora lawas nuli salin panjenengan.
  18. Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.
  19. Dhuwit anggris lawan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Rupa getih mung sapitrah, Nuli retu kang nagari, Ilang barkating bumi, Tatane Parentah rusuh, Wong cilik kesrakatan, Tumpa-tumpa kang bilahi, Wus pinesthi nagri tan kena tinambak.
  20. Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.
  21. Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.
  22. Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.
  23. Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundak-mundak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja.
  24. Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
  25. Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den suguhi, Mring ki Ajar Gunung Padang, Arupa endang sawiji, Samana den etangi, Jaman sewu pitung atus, Pitung puluh pan iya, Wiwit prang tan na ngaberi, Nuli ana lamate negara rengka.
  26. Akeh ingkang gara-gara, Udan salah mangsa prapti, Akeh lindhu lan grahana, Dalajate salin-salirt, Pepati tanpa aji, Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya, Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna.
  27. Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, Semune Pudhak kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan,
  28. Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.
  29. Kono ana pangapura, Ajeg kukum lawan adil, Wong jilik pajege dinar, Sawab ingsun den suguhi, Iya kembang saruni, Mring ki Ajar iku mau, Ing nalika semana, Mulya jenenging narpati, Tur abagus eseme lir madu puspa.
Dandanggula :
  1. Langkung arja jamane narpati, Nora nana pan ingkang nanggulang, Wong desa iku wadale, Kang duwe pajeg sewu, Pan sinuda dening Narpati, Mung metu satus dinar, Mangkana winuwus, Jamanira pan pinetang, Apan sewu wolungatus anenggih, Ratune nuli sirna.
  2. Ilang tekan kadhatone sami, Nuli rusak iya nungsa Jawa, Nora karuwan tatane, Pra nayaka sadarum, Miwah manca negara sami, Pada sowang-sowangan, Mangkana winuwus, Mangka Allahu Tangala, Anjenengken Sang Ratu Asmarakingkin, Bagus maksih taruna.
  3. Iku mulih jenenge Narpati, Wadya punggawa sujud sadaya, Tur padha rena prentahe, Kadhatone winuwus, Ing Kediri ingkang satunggil, Kang siji tanah Ngarab, Karta jamanipun, Duk semana pan pinetang, Apan sewu lwih sangang atus anenggih, Negaranira rengka.
  4. Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi, Ratu Peranggi anulya prapta, Wadya tambuh wilangane, Prawirane kalangkung, Para ratu kalah ngajurit, Tan ana kang nanggulang, Tanah Jawa gempur, Wus jumeneng tanah Jawa, Ratu Prenggi ber budi kras anglangkungi, Tetep neng tanah Jawa.
  5. Enengena Sang Nateng Parenggi, Prabu ing Rum ingkang ginupita, Lagya siniwi wadyane, Kya patih munggweng ngayun, Angandika Sri Narapati, “Heh patih ingsun myarsa, Tanah Jawa iku, Ing mangke ratune sirna, lya perang klawan Ratu Parenggi, Tan ana kang nanggulang.
  6. Iku patih mengkata tumuli, Anggawaa ta sabalanira, Poma tundungen den age, Yen nora lunga iku, Nora ingsun lilani mulih”, Ki Patih sigra budal, Saha balanipun, Ya ta prapta Tanah Jawa, Raja Prenggi tinundhung dening ki Patih, Sirna sabalanira.
  7. Nuli rena manahe wong cilik, Nora ana kang budi sangsaya, Sarwa murah tetukone, Tulus ingkang tinandur, Jamanira den jujuluki, Gandrung-gandrung neng marga, Andulu wong gelung, Kekendon lukar kawratan, Keris parung dolen tukokena nuli, Campur bawur mring pasar.
  8. Sampun tutug kalih ewu warsi, Sunya ngegana tanpa tumingal, Ya meh tekan dalajate, Yen Kiamat puniku, Ja majuja tabatulihi, Anuli larang udan, Angin topan rawuh, Tumangkeb sabumi alam, Saking kidul wetan ingkang andatengi, Ambedol ponang arga.